Workshop Disiplin Positif SMAN 3 Pangkalan Bun: Mewujudkan Sekolah Aman, Berkarakter, dan Bebas Bullying

Workshop Disiplin Positif SMAN 3 Pangkalan Bun: Mewujudkan Sekolah Aman, Berkarakter, dan Bebas Bullying

SMANTRI - Komitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying terus digalakkan oleh SMAN 3 Pangkalan Bun. Salah satu upaya nyata diwujudkan melalui Workshop Penerapan Disiplin Positif Melalui Kolaborasi Sekolah dan Keluarga yang diselenggarakan pada Senin, 20 Juli 2026 di Aula Brits Hotel Pangkalan Bun.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Koordinator Pengawas SMA/SMK/SKH Provinsi Kalimantan Tengah sekaligus Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak. Workshop yang merupakan kolaborasi dari tiga sekolah SMAN 3 Pangkalan Bun, SMAN 1 Pangkalan Lada dan SMAN 2 Kumai diikuti oleh undangan yang terdiri atas kepala sekolah, tenaga pengajar,  guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta perwakian siswa dan orang tua terpilih sebagai bentuk kolaborasi lintas jenjang pendidikan dalam membangun budaya sekolah yang positif dan berkarakter.

Workshop dibuka oleh pembawa acara Ika Puspita Sari, S.Pd., dilanjutkan dengan sambutan oleh Kepala SMAN 2 Kumai, Ibu Kunisa Soliha, S.Pd., menyampaikan bahwa workshop ini adalah bentuk nyata komitmen sekolah untuk menjadi pelopor perubahan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam menciptakan sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan karakter

Dilanjutkan penyampaian materi dari narasumber Dr. Rusnanie, M.Pd, yang dipandu moderator Pengawas SMA/SMK Provinsi Kalimantan Tengah, Sukirn, S.Pd. Ibu Rusnanie selaku narasumber yang menyampaikan materi bertema “Sekolah Anti-Bullying dan 7 Kebiasaan Hebat Anak Indonesia.” Beliau menjelaskan bahwa kebiasaan disiplin positif yang dibangun secara konsisten dapat menjadi benteng utama dalam melawan praktik perundungan.

Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa pencegahan bullying tidak cukup hanya melalui penegakan aturan, namun harus diperkuat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dibangun sejak dini. “Lingkungan sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi pertumbuhan karakter peserta didik. Pencegahan bullying bukan sekadar tanggung jawab guru BK, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh ekosistem pendidikan,” ungkapnya.

“Ketika siswa terbiasa bersikap bertanggung jawab, memiliki empati, dan bekerja sama, maka lingkungan belajar yang saling menghargai akan terbentuk dengan sendirinya,”

Dengan semangat kolaboratif yang dibangun dalam kegiatan ini, SMAN 3 Pangkalan Bun berharap nilai-nilai disiplin positif akan menyebar dan mengakar kuat di seluruh satuan pendidikan di sekolah, menciptakan generasi muda yang lebih berkarakter, saling menghargai, dan bebas dari bullying.